Aplikasi Bioremediasi dalam Konservasi Tanah dan Air

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor, 30/8/2019_Open Campus Day Badan Litbang dan Inovasi merupakan rangkaian kegiatan INAFOR EXPO 2019 yang berlangsung di Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI). Salah satu kegiatannya adalah Bedah Buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air” yang diselenggarakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan.

Kerusakan lingkungan sebagian besar (>75%) terjadi karena ulah manusia, sedangkan sisanya akibat fenomena alam (misalnya erupsi). Sengaja atau tidak, aktifitas manusia telah mendorong lingkungan menjadi rusak. Lingkungan menjadi tidak normal atau bahkan berbahaya bagi makhluk yang mendiaminya.

Hal tersebut disampaikan Prof. (Ris) Chairil Anwar Siregar salah satu penulis buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air” dalam pengantar acara bedah buku.

Perlu kerja keras dan bukan perkara yang mudah untuk mengembalikan lingkungan yang sudah rusak. Untuk itu, dibutuhkan waktu, tenaga, biaya, ilmu, komitmen, dan konsistensi seluruh stakeholder dalam mengembalikannya.

Asep Hidayat, S.Hut., M.Agr., Ph.D yang juga penulis buku tersebut, dalam paparannya menyampaikan gambaran lebih detail tentang isi bukunya yaitu peran mikroba dalam mengurai limbah senyawa organik, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, serta teknik-teknik bioremediasi apa saja yang dapat diaplikasikan; Status riset pengurai senyawa organik, seperti pada minyak mentah, zat pewarna, dan senyawa berklorinasi yang dimainkan oleh mikroba; aplikasi bioremediasi pada kasus minyak mentah di Indonesia; dan peraturan yang mengatur dan kasus-kasus yang terjadi selama aplikasinya.

“Bioremediasi lahir dengan sebuah pendekatan bahwa sebuah penguaraian atau dekomposisi limbah secara alami terjadi karena peran dari mikroba. Meskipun bioremediasi bukan satu-satunya cara untuk pemulihan lingkungan tercemar, namun bioremediasi adalah metode yang ramah lingkungan, murah, sederhana, dan lebih diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan metode lainnya” tegasnya.

Sebagai upaya tindaklanjut Asep menyampaikan bahwa lingkungan tercemar harus dipulihkan dengan metode yang benar, jauh dari hasil yang menyimpang dan berbiaya murah. Peraturan, Kepmen LH 128/2003 perlu dikaji ulang untuk mempertajam substansi proses pengolahan, metode analisa dan memperkecil dampak negatif akhir hasil pengolahan.

Sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas regulasi, perlu didukung oleh sumberdaya manusia yang memiliki dasar keilmuan bioremedasi yang cukup, berintegritas moral tinggi, cakap, jujur dan bertanggung jawab. Objek target pencemar perlu diperluas, tidak hanya untuk minyak mentah namun untuk jenis pencemar lainnya seperti POP berklorinasi, zat pewarna dan lain-lain. Upaya pemulihan lingkungan tercemar yang dilimpahkan ke pihak ke-3, perlu dilakukan kajian. Bioremediasi terlihat sangat mudah dan sederhana, namun dasar keilmuan bioremediasi sangat multidisplin yang mencakup mikrobiologis, ilmu lingkungan, ilmu tanah, kimia analisis, geologis dan arsitektur. Setiap bidang keilmuan tersebut harus terdistribusi di dalam personalia pihak ke-3. Lebih jauh dari itu mereka harus meliliki spesifikasi bidang pekerjaan bioremediasi yang telah teruji dan memiliki sertifikat, tutup Asep.

Sementara itu, Dr. Dede Heri Yuli Yanto Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial – LIPI sebagai narasumber menyampaikan bahwa secara umum buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan air” berbeda dengan buku “Bioremediasi” yang telah ada sebelumnya. Pembahasan yang cukup lengkap dengan menguraikan perspektif teori bioremediasi hingga aplikasinya di Indonesia. pembahasan bioremediasi fraksi minyak mentah yang mendetail dan pembahasan bioremediasi senyawaan pewarna dan berklorinasi lengkap disajikan dalam buku ini.

Namun sebagai peningkatan kedepan, buku ini perlu dilengkapi dengan pembahasan Teknik Analisa TPH , fraksi minyak mentah dan hasil degradasinya termasuk untuk dyes dan POPs. Bahkan setelah ini dapat membuka peluang untuk penulisan buku selanjutnya yaitu “prospek perkembangan teknologi” yang belum dibahas secara rinci, ungkap Dede.

Dengan dipandu Bagja Hidayat dari Media TEMPO sebagai moderator, diskusi  bedah buku ini berlangsung sangat atraktif. Sebanyak kurang lebih 60 peserta hadir dalam acara ini, yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas, dan praktisi lingkungan. Antusiasme peserta terhadap Bioremediasi juga terlihat dengan banyaknya tanggapan saat acara diskusi berlangsung.

 

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  •  
  •  
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  •  
  •