Focus Group Discussion (FGD) Masterplan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Persutraan Alam Indonesia

Bogor, Pusat Penelitian dan pengembangan Hutan, 12 November 2019_Kegiatan persutraan alam merupakan rangkaian kegiatan agroindustri yang meliputi kegiatan budidaya murbei, pemeliharaan ulat sutra, produksi dan pengolahan kokon, pemintalan dan penenunan sutra.  Sutra menjadi komoditas yang mampu mencirikan icon keaslian produk Indonesia, karena dari hulu (budidaya murbei dan pemeliharaan ulat) sampai proses pembuatan benang dan penenunan kain, bahan berasal dari Indonesia dan dilakukan di Indonesia. Namun sayangnya terjadi penurunan produksi sutra, baru 5% saja bahan baku industri persutraan alam yang diproduksi di Indonesia, 95% lainnya diimport dari negara lain.

Persutraan alam merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi sektor hulu dan hilir dengan banyak pihak yang terlibat. Sektor hulu dengan kegiatan berupa budidaya murbei dan pemeliharaan ulat sutra, melibatkan pihak diantaranya: petani, Perum Perhutani, Dinas Kehutanan, Perguruan Tingi, LSM, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK – Pusat Penelitian dan pengembangan Hutan). Sedangkan sektor hulu dengan kegiatan berupa pengolahan kokon menjadi benang dan kain serta pemasaran melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, UPTD, Balai Riset Industri & Perdagangan, Perguruan Tinggi, Kelompok Usaha, LSM, konsumen (pasar).

Pengembangan sutra alam diperlukan kerjasama dan koordinasi yang harmonis antara 3 aktor utama yaitu: pemerintah, pengusaha dan masyarakat, ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Dr. Ir. Kirsfianti L. Ginoga, M.Sc dalam pembukaan Focus Group Discussion (Fgd) Masterplan Penelitian, Pengembangan Dan Inovasi Persutraan Alam Indonesia, di Swiss-BelHotel, Bogor, 12 November 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkomunikasi masterplan penelitian dan pengembangan persutraan alam Indonesia untuk dapat mengangkat kembali sutra asli Indonesia; melakukan identifikasi potensi invensi dan inovasi yang berkaitan dengan budidaya, pemanfaatan maupun kebutuhan industri sutra serta merumuskan bentuk kebijakan pengembangan persutraan alam utamanya berkaitan dengan budidaya, pemanfaatan maupun kebutuhan industri sutra.

Lebih lanjut dikatakan bahwa untuk berperan serta dalam pengembangan sutra alam ini, maka perlu disusun masterplan penelitian, pengembangan dan inovasi persutraan alam. Tujuan penyusunan masterplan penelitian, pengembangan dan inovasi persutraan alam Indonesia adalah untuk me-mainstriming persutraan alam secara nasional di Indonesia. Ruang lingkup masterplan tidak hanya meliputi aspek teknis tapi juga menyangkut aspek kebijakan/policy secara nasional yang mendukung persutraan alam secara nasional.

Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi berkaitan dengan penguatan budidaya, industri dan diversifikasi produk persutraan alam yaitu: Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi budidaya murbei (Dr. Supriyanto, D,E.A); Potensi Invensi dan Inovasi Ulat, Benang dan Kain Sutra Alam (Firman Nitiwisastra) dan Inovasi untuk Diversifikasi Produk Persutraan Alam (Prof. Dr. drh. Clara Meliyanti Koesharto). Selanjutnya dilakukan paparan dan diskusi mengenai masterplan yang telah disusun.

Dr. Supriyanto, D.E.A menyampaikan bahwa Industri mempunyai tuntutan dalam hal kuantitas, kualitas serta kontinuitas bahan baku. Litbang dapat masuk mengatasi permasalahan sutra alam melalui kesenjangan teknologi yang ada yaitu: genetik ulat sutra ( ulat yang tahan penyakit dan mempunyai produktivitas tinggi sesuai tuntutan industri), genetika murbei sebagai pakan sutra (clone management, palatabilitas atau kesukaan ulat sutra untuk makan daun murbei, kandungan protein, mempunyai sifat yang tahan kekeringan, Teknologi budidaya pakan ulat sutra (land values dan value chain, pellet pakan). Juga teknologi budidaya ulat sutra agar mampu diimplementasikan semua pihak. Tak lupa juga memperhatikan diversitas produk turunan yang menambah added value sutra itu sendiri, seperti tepung protein, pengawet, pakan, tepung, klorofil, dll. Oleh sebab itu, perlu adanya detail engineering decided, yang mengutamakan output apa yang akan dituju kemudian baru melakukan pembahasa berkaitan dengan input dan proses yang perlu dibenahi untuk memcapai output tersebut.

Produk yang dihasilkan dari penelitian oleh Prof. Clara M. Koesharto, yaitu tepung pury yang berasalh dari limbah pupa sutra dapat menjadi produk yang dapat dikenalkan ke petani untuk menambah penghasilan. Utamanya perlu mengangkat potensi by product sutra alam yang sudah dikembangkan dan diperkenalkan di tingkat komunitas dan diharapkan dapat diperkenalkan lebih luas sebagai icon Sulawesi Selatan, mengingat Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil sutra.

Kunci keberhasilan pengembangan sutra alam adalah sociopreneurship, teknologi pemeliharaan yang efektif dan team work yang efektif. Hal yang disampaikan oleh Firman Nitiwisastra yang merupakan pengusaha sutra dan mempunyai mimpi untuk membuat sutra asli Indonesia. Sehingga menurutnya semua pengembangan produk berbasis sutra alam harus client base  dalam rangka mengatasi kesenjangan pasar. Pengembangan sutra alam yang efektif harus mampu menghasilkan produk yang kompetitif, zero waste dan mampu diterapkan skala luas. Litbang tetap meneruskan upaya yang sudah dilakukan dengan membuat bibit ulat sutra dan murbei unggul, yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Kegiatan FGD ini dihadiri oleh praktisi dan ilmuwan yang bergerak di bidang persutraan alam seperti Perum Perhutani, Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Universitas Hasauddin, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat, Industri (PT. Begawan Sutra Nusantara) serta peneliti-peneliti lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Masterplan ini menjadi harapan baru semua pihak untuk lebih mengangkat kembali kejayaan sutra alam di Indonesia. Satu langkah kecil dari Bogor untuk kejayaan sutra alam Indonesia. Tujuan penyusunan masterplan penelitian, pengembangan dan inovasi persutraan alam Indonesia adalah untuk me-mainstriming persutraan alam secara nasional di Indonesia.

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  •  
  •  
  •  
  •