Puslitbang Hutan Tingkatkan Wawasan Masyarakat dalam Pemulihan Lingkungan

Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Kamis, 18 Juni 2020. Sebagai upaya peningkatan wawasan masyarakat dalam pemulihan lingkungan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, mengundang masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk berbincang bersama para pakar. Melalui kegiatan TERAS INOVASI : Bincang Seru Profesor, yang bertemakan “Degradasi Tanah : Telaah Teknis Kebijakan Rehabilitasi Pasca Tambang”, acara ini dilaksanakan bertepatan dengan hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 Juni.

Dalam kesempatan ini, hadir Prof. Chairil Anwar Siregar (CAS) dari P3H sebagai narasumber mewakili KLHK, didampingi oleh Prof. Fahmuddin Agus, Peneliti Ahli Utama pada Badan Litbang Pertanian dan Dr. Iskandar Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Terdapat tiga topik terkait yang disampaikan oleh ketiga narasumber. Prof. CAS menerangkan dampak kerusakan tanah akibat kegiatan pertambangan, dan Prof. Fahmuddin menerangkan rehabilitasi lahan bekas tambang untuk pertanian. Sementara Dr. Iskandar menjelaskan kualitas tanah bekas tambang pasca Reklamasi.

“Kegiatan penambangan menyebabkan badan tanah rusak, yang mengakibatkan tingkat kesuburan kimia tanah menjadi rendah, dan terjadinya kelarutan unsur toksik. Hal ini memengaruhi keberadaan bahan organik, mikroorganisme tanah, bakteri pelarut hara menurun dan hilangnya top soil. Pada akhirnya akan menyebabkan tanaman tidak mampu hidup dan tumbuh optimal,” jelas Prof. Chairil yang akrab dipanggil Prof. CAS ini (17/06/2020).

Dirinya juga menerangkan tiap jenis tambang mengakibatkan kerusakan dengan karakteristik ekologis yang berbeda, antara lain kerusakan lahan fisik, kimiawi (heavy metal), void dan cemaran tailing. “Beberapa bentuk upaya rehabilitasi untuk mengatasi hal ini dapat secara fisik mekanik, revegetasi, agronomi, Phytoremediasi, dan lain-lain. Namun perlu diingat bahwa biaya rehabilitasi ini bisa menjadi sangat mahal,” tambahnya.

Mengingat upaya reklamasi pasca tambang yang memakan biaya tidak sedikit, Prof. CAS mengingatkan perlunya pencermatan dalam kebijakan pemerintah terkait skema pelepasan atau pinjam pakai.

Sementara itu, Prof. Fahmudin menyatakan kegiatan pertanian pada lahan bekas tambang masih memungkinkan untuk dilakukan. “Secara agronomis mungkin, tapi biaya investasi sangat tinggi apabila lahan bekas tambang tersebut belum diratakan atau dibenahi. Dalam tahapannya, diperlukan beberapa perlakuan aplikasi pengolahan tanah terhadap lahan sebelum ditanami,” jelasnya.

Beberapa tahapan kegiatan reklamasi tambang juga disampaikan oleh Dr. Iskandar, antara lain yaitu : 1) Pengupasan lapisan tanah di lokasi yang akan ditambang untuk disimpan/diamankan di tempat lain dan dimanfaatkan lagi sebagai “tanah pucuk; 2) Penataan lahan: setelah penambangan selesai batuan limbah dikembalikan ke lubang tambang; 3) Penaburan “tanah pucuk” di lokasi yang sudah ditata; 4) Pemadatan tanah; dan 5) Perlu perbaikan kualitas tanah menggunakan kompos, kapur, pupuk NPK.

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Hal ini tercantum dalam Undang-undang RI. Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, sebagai kewajiban dari setiap pelaku usaha pertambangan.

Terkait hal tersebut, Dr. Iskandar menyampaikan bahwa banyak contoh keberhasilan daerah bekas tambang yang sukses reklamasi, tapi banyak juga pihak-pihak yang belum melaksanakan dengan baik. “Kami harap diantara perusahaan bisa saling belajar dan menerapkannya di tempatnya masing-masing,” tuturnya.

Dipandu Nilam Sari, S. Hut., MP. sebagai moderator, acara ini diikuti oleh kurang lebih 400 peserta yang antusias mengikuti secara online melalui zoom dan live streaming melalui kanal Youtube P3H. Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala P3H, Dr. Kirsfianti L. Ginoga kepada para nasraumber dan peserta. “Kegiatan diseminasi TERAS INOVASI : Bincang Seru Profesor akan terus kita hadirkan dengan menampilkan narasumber pakar, dan informasi kajian litbang terkini, untuk itu kami harap peserta dapat terus mengikuti tema-tema selanjutnya dari kegiatan ini,” pesan Kirsfianti. (*)

 

 

Penanggung Jawab Berita :

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Dr. Ir. Kirsfianti L. Ginoga

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  •  
  •  
  •  
  •  
  •