Pentingnya Riset Hasil Hutan dan Pengelolaan Hutan secara Kolaboratif di Era New Normal

BogorPusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Jum’at, 10 Juli 2020. Dalam rangka meningkatkan dukungan hasil-hasil litbang dan inovasi terhadap pengelolaan hutan lestari, untuk kesejahteraan masyarakat di masa pandemi COVID-19, perlu dikembangkan riset dan kebijakan integratif dalam pengembangan produk-produk alami dari hutan untuk pencegahan atau mitigasi COVID-19. Demikian kiranya pesan penting Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Agus Justianto, saat membuka kegiatan Teras Inovasi : Bincang Seru Profesor secara virtual, Rabu lalu (08/07/2020).

“Pandemi COVID-19 menyebabkan guncangan pada aktivitas perekonomian di semua sektor, termasuk sektor kehutanan. Secara agregat, ekspor sektor kehutanan menurun 10,79%, yang menyebabkan penurunan kinerja makro ekonomi,” tutur Agus.

Selain menimbulkan dampak terhadap makro ekonomi, dirinya menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 berdampak pada indikator sosial ekonomi hasil hutan, yaitu penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor hasil hutan sebesar 0,87%, penurunan nilai tambah sektor kehutanan sebesar 0,55%, serta penurunan harga dan output sektor kehutanan masing-masing sebesar 0,59% dan 0,6%.

webinarhkm6

“Komoditas sutera alam, ekaliptus, gaharu, cendana, dan kayu putih menjadi pilihan yang inovatif untuk dikembangkan dalam riset, untuk kesejahteraan masyarakat, karena bersumber dari kekayaan hutan,” lanjutnya.

Bertemakan “Hutan Kaya Masyarakat Sejahtera Pasca Pandemi COVID-19”, acara ini menghadirkan empat narasumber yang memaparkan berbagai strategi, tantangan, serta pengalaman dalam pengelolaan hutan lestari. Keempat narasumber itu antara lain, Prof. (Ris) Suharti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H), Prof. San Afri Awang, M.Sc. dari UGM, Dra. Lincah Andadari dari P3H, dan Rudi Syaf dari KKI Warsi.

Prof. Sri Suharti menyampaikan bahwa differensiasi pada alam menjadi pendorong munculnya penyakit-penyakit pada manusia. “Hutan sebagai jaring pengaman masyarakat apalagi setelah adanya virus Corona yang menambah beban tekanan pada hutan. Semakin kuat resiliensi, maka semakin kuat pula masyarakat dalam menghadapi berbagai goncangan,” jelasnya.

webinarhkm3

Menurutnya, modal pengelolaan yang bagus jika dikelola secara kolaboratif yang melibatkan masyarakat. “Modal sosial yang kuat, kelembagaan lokal yang efektif, dan peran tokoh sebagai role model merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi goncangan ini. Hutan tidak hanya membantu mengurangi kemiskinan pada masyarakat tetapi juga pada memberikan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Terkait dengan dampak terhadap ekonomi, Sri Suharti juga menyampaikan perlunya beberapa strategi terutama pendampingan kelompok masyarakat, untuk mendukung upaya peningkatan ketahanan masyarakat.

“Hal ini sangat penting untuk mencegah ruralisasi  besar-besara, sehingga tidak menimbulkan persoalan yang baru, karena terbatasnya komsumsi masyarakat. Strategi lainnya yaitu peningkatan dukungan pemodalan untuk pengembangan usaha dengan bunga rendah, peningkatan kapasitas SDM, serta peningkatan nilai produk yang dilaksanakan secara luas,” terangnya.

Sejalan dengan Sri Suharti, Prof. San Afri menekankan pentingnya melihat pandemi sebagai pembelajaran. “Corona dalam Al Qur’an artinya merenung kembali, maka seharusnya apa yang sudah kita kerjakkan selama ini apakah sudah on the track menurut filosofi dan ideologi,” ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan pentingnya prinsip keadilan sosial itu sebagai acuan, dan kondisi pasca pandemi harus mengahasilkan norma baru (new norm). “Norma baru perlu dihasilkan, bukan hanya new normal, harus ada pengalaman baru, perilaku baru termasuk mengelola hutan, karena yang lama tidak dapat menyelesaikan masalah lagi, maka saat ini agar dapat melihat  kebijakan-kebijakan yang sesuai. Mari kita buat norma baru untuk mengelola hutan,” imbaunya.

Sebagai salah satu alternatif potensi pengembangan usaha masyarakat, Dra. Lincah Andadari menyampaikan bahwa pengembangan persuteraan alam dapat menjadi peluang di masa pandemi COVID-19. “Terdapat peluang dalam bentuk diversifikasi dan inovasi produk sutra alam yaitu Murbei. Murbei dapat digunakan juga sebagai bahan dari obat virus Corona. Sebelumnya Murbei digunakan sebagai pakan ulat sutra, tetapi atas hasil uji bahwa Murbei dapat digunakan sebagai imunomodulator COVID-19,” jelasnya.

webinarhkm5   webinarhkm2

Ia pula menambahkan bahwa usaha ini sesuai dengan perekonomian kerakyatan, karena tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menjalani usaha ini serta merupakan usaha padat karya. Mendukung usaha ini, Lincah menyarankan penggunaan media sosial sebagai sarana pemasaran, peningkatan daya saing, serta perubahan pola kegiatan yaitu mengubah sikap mental menjadi produktif, dan berorientasi pada hasil, dan kualitas.

Sementara itu, Rudi Syaf menyampaikan bahwa banyak tradisi lokal yang tetap menjaga kelestarian hutan yang sudah ada dari zaman dahulu. “Hutan bukan hanya sebagai tegakan kayu, tetapi bisa menjadi sumber kehidupan manusia. Disaat ini diperlukan aksi-aksi perlindungan terhadap hutan, dimana masyarakat yang sudah memiliki kearifan lokal agar tidak tergerus oleh zaman,” tuturnya

webinarhkm4

Dipandu oleh Irma Yenny sebagai moderator, dan diikuti oleh kurang lebih 500 peserta pada platform Zoom maupun kanal Youtube Kementerian LHK, acara ini merupakan seri kelima yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, KLHK. (*)

 

Penanggung Jawab Berita :

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Dr. Ir. Kirsfianti L. Ginoga

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  •  
  •  
  •  
  •  
  •