Puslitbang Hutan Dorong Peneliti Raih Profesor Riset

Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. 27 Oktober 2020. Riset dan inovasi berperan penting dalam menjawab permasalahan aktual dan strategis lingkungan hidup dan kehutanan. Begitu pula halnya dengan Puslitbang Hutan yang harus dapat memberikan nilai tambah dari berbagai kegiatan riset yang sifatnya konvensional menjadi lebih green perspective dari aspek lingkungan, dalam mengelola sains, teknologi dan riset yang dihasilkan.

Demikian pesan penting yang disampaikan oleh Kepala Puslitbang Hutan, Kirsfianti L. Ginoga dalam Pembinaan Kapasitas SDM Peneliti lingkup Puslitbang Hutan (26/10/20). Sebagai bentuk dukungan perluasan kontribusi IPTEK kepada publik, tahun ini Puslitbang Hutan akan mengukuhkan tiga Profesor Riset dengan kepakaran yang berbeda, antara lain terkait teknologi mikoriza, agroforestri, dan karbon hutan. Ketiga calon Profesor Riset itu antara lain Dr. Maman Turjaman, Dr. Murniati, dan Dr. Haruni Krisnawati.

“Peran Puslitbang Hutan tidak terlepas dari komitmen pemerintah Indonesia di kancah internasional seperti SDG, konvensi-konvensi yang diratifikasi, nasional agenda dan Renstra. Sebagai lembaga litbang, kita harus menghasilkan riset-riset unggulan dengan prinsip kelestarian, daya saing, nilai tambah dan efisiensi,” ujar Kirsfianti.

Sebagaimana diketahui, Puslitbang Hutan memiliki potensi SDM peneliti yang terbesar di lingkup Badan Litbang dan Inovasi KLHK. Sebanyak 30,64% dari jumlah total pegawai Puslitbang Hutan adalah peneliti, 0,85% adalah calon peneliti, teknisi litkayasa 13,62%, dan sisanya adalah pihak manajemen. Dengan lahirnya delapan Profesor Riset dari Puslitbang Hutan selama kurun waktu lima tahun, menjadi awal dari rekognisi dan peningkatan reputasi peneliti ke tingkat internasional.

“Profesor Riset agar dapat menjadi contoh bagi peneliti muda dan menghasilkan kader, serta dapat mendukung pengembangan kerja sama dan jaringan, yang manfaatnya bisa dirasakan secara internal dan eksternal.  Itulah mengapa kami sangat mendorong untuk membimbing para peneliti agar menjadi Profesor Riset,” lanjut Kirsfianti.

Tidak lupa ia juga menyampaikan apresiasi kepada para Profesor Riset di Puslitbang Hutan, Majelis Profesor Riset, dan semua pihak yang telah mendukung persiapan pengukuhan tiga calon Profesor Riset pada bulan November dan Desember nanti. Sebanyak kurang lebih 60 peneliti hadir dalam kegiatan ini, dan untuk meningkatkan semangat para peneliti, Kirsfianti juga mengajak para peneliti menyanyikan Mars Peneliti.

Sementara itu, Murniati salah satu calon Profesor Riset di bidang teknologi agroforestri dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat, menyampaikan bahwa fokus kepakaran menjadi hal yang penting dalam proses menjadi Profesor Riset. Wanita yang telah berkarya sejak tahun 1990 dan menghasilkan 27 publikasi berbahasa inggris ini, juga berharap agar pengukuhan nanti dapat memberikan motivasi kepada para peneliti muda untuk segera mengajukan profesor risetnya.

Berbagai pengalaman tingkat nasional dan internasional juga dibagikan oleh Maman Turjaman, calon Profesor Riset yang mendalami teknologi pemanfaatan mikoriza dan gaharu sejak tahun 2002. Sebagai peneliti yang telah banyak terindeks internasional dan memiliki peringkat pertama tingkat BLI untuk indeks SINTA, Maman berkontribusi dalam upaya peningkatan keberhasilan kegiatan RHL di Indonesia, melalui IPTEK pemanfaatan fungi mikoriza yang dikembangkannya, serta pengembangan riset dan bisnis gaharu di mancanegara.

“Profesor Riset harus memberikan kontribusi IPTEK, membangun jejaring, dan berkontribusi secara umum, baik itu untuk pemerintah, maupun masyarakat,” tutur Maman. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti dalam pengembangan suatu riset.

Mendukung kedua calon professor tersebut, Haruni sebagai calon profesor termuda tahun ini berpesan agar para peneliti mulai menyiapkan dengan seksama apa yang akan menjadi naskah orasi kedepannya. “Perlu mengikuti peningkatan kapasitas yang terkait dengan kepakarannya, misalnya mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan yang sesuai kepakaran. Setelah itu, kita juga perlu aktif meningkatkan pengalaman dalam berbagai organisasi khususnya yang sangat terkait dengan kepakaran,” demikian jelasnya.

Mendalami ilmu penghitungan karbon hutan dan metode Indonesia National Carbon Accounting System (INCAS), Haruni juga aktif sebagai koordinator International Tropical Peatland Center (ITPC) yang berdiri sejak tahun 2019. (*)

 

Penanggung jawab berita:

Dr. Ir. Kirsfianti L. Ginoga – Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  •  
  •  
  •  
  •  
  •