Telaah mendalam tentang Bioremediasi: Teori dan aplikasinya dalam Upaya Konservasi Tanah dan Air

Lingkungan yang kita tempati merupakan karunia Tuhan YME, yang tak ternilai harganya. Pada lingkungan yang normal, tanaman mampu merubah senyawa kimia anorganik menjadi bentuk senyawa organik melalui proses fotosintesis dengan bantuan klorofil dan energi surya. Sementara mikroba berperan sebaliknya mengkonversi kembali senyaw kimia organik (hewan, jasad renik, dan tanaman mati) menjadi bentuk senyawa kimia anorganik. Satu sama lain saling bekerjasama yang saling membutuhkan. Selanjutnya, dinmankah posisi manusia dalam lingkungan yang biasa disebut dengan lingkungan hidup? Tuhan YME telah memperingatkan kita dalam QS Al-Baqarah 2:11, QS Al-A’raf 7:56, dan QS Al-Rum 31:41. Inti dari peringatan-NYA adalah menempatkan posisi manusia sebagai makhluk perusak di muka bumi ini. Ketika mereka dilarang untuk tiak merusak, manusia selalu mengatakan dan berdalih bahwa mereka justru melakukan perbaikan.

Peringatan tersebut nyata-nyata telah tampak terjadi, lingkungan sedang terancam. Darat, laut, air, dan udara telah mengalami penurunan kualitas dan fungsinya secara drastis. Air yang kita perlukan menjadi langka dan tercemar. Sudaryanto et al. (2002) melaporkan bahwa air bersih di beberapa tempat di kota surabaya telah terkontaminasi oleh senyawa 1,1,1-trichloro-2,2-bis(4-chlorophenyl) ethane (DDT). Lebih jauh dari itu, Aislabie et al. (1997) mendeteksi DDT pada ikan sebagai residu tak terurai. Mereka menyebar masuk dalam jaringan tubuh manusia, plasma darah, hati, dan air susu ibu (ASI) (Tanabe et al., 1990, Dale et al., 1965). Kebakaran hutan menyebabkan lahan hutan menjadi terkontaminasi oleh polychlorinated dibenzo-p-dioxins (Gribble, 1994).

Indonesia sebagai negara maritim memiliki jlaur perdagangan laut yang sibuk. Kaya akan sumberdaya alam, dimana bidang pertambangan dan eksploitasi minyak bumi menjadi sumber pendapatan negara terbesar. Surbei eksplorasi kandungan minyak mentah di Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 1924. Tahun 1936 eksploitasi pertama kali dilakukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa wilayah indonesia menjadi sangat rawan tercemar tumpahan minyak mentah. Tercatat beberapa kejadian tumpahan minyak terjadi di Provinsi Kalimantan Timur, Riau, dan Jawa Barat. Pada tahun 1999, 4000 barrel minyak mentah tumpah dari Kapal Tanker (MT King Fisher) di laut Cilacap-Jawa Tengah. Tahun 2009 tumpahan minyak terjadi di Manyar, Gresik-Jawa Timur. Tahun 2014 tumpahan minyak terjadi di daerah Indramayu dan sepanjang 7 km garis pantai tercemar. Pada tahun yang sama 200 barrel minyak mentah dari bocornya sumur di Bakau Area 07, baik berbentuk minyak dan lumpur, masuk ke sungai rawa di Kabupaten Siak-Riau. Dari retentan peristiwa perusakan lingkungan ini, maka upaya penanganan, pencegahan, dan pemulihan lingkungan tercemar menjadi sangat penting adanya.

Metode pemulihan lingkungan tercemar dapat dilakukan secara konvensinal: fisik (insinerasi, pencucian) dan kimia (ekstraksi, reaksi kimia, pengenceran). Namun pada banyak kasus, metode ini hanya merupakan proses pemindahan pencemar dari satu fase ke fase yang lain (satu tempat ke tempat yang lain). Metode lain yang dapat dipilih adalah dengan caara biologis. Metode ini didasari oleh suatu kenyataan bahwa dalam sebuah ekosistem yang utuh, mikroba (jamur dan bakteri) memiliki fungsi yang sangat luas dan penting dalam mendaur ulang sisa buangan (hewan, jasad renik, dan tanaman mati). Mereka melakukan penguraian tanpa henti walau hanya sedetik. Bisa dibayangkan jika mereka berhenti melakukan fungsinya, berjuta-juta tumpukan limbah akan menutupi dunia ini. Sangat istimewa lagi fungsi mikroba di alam ini, tidak hanya terbatas sebagai agen pengurai. Mereka juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bioresource untuk pembangunan ekonomi dan lingkungan, seperti obat-obatan, bioenergi, bioplastik, biofertilizer, dan makanan. Mereka adalah makhluk hidup, dimana makhluk kecil ini hanya akan hidup jika kondisi lingkungannya mendukung untuk menghasilkan apa yang kita inginkan.

Sejalan dengan waktu, dalam upaya pemulihan lingkungan tercemar, metode bioremediasi telah menjadi metode yang ramah lingkungan dan diterima oleh masyarakat luas. Proses penguraian terjadi dalam arti yang sebenarnya melalui proses metabolisme, mengkonversi polutan (substrates) menjadi CO2 dan H2O atau produk antara melalui reaksi organik yang dikatalisasi oleh enzim. Kelompok enzim oksidoreduktase dan hidrolase sangat berperan dalam proses biodgradasi. Oksidoreduktase memecah ikatan utama kimia dalam sebuah molekul dan membantu mentransfer elekton dari senyawa pendonor ke senyawa akseptor. Hidrolase memecah ikatan utama kimia dalam sebuah molekul dan mengkatalisasi beberapa reaksi termasuk kondensasi dan alkoholisis. Selain itu, bioremediasi adalah metode yang paling murah (sekitar 95 US$/m3), dan jauh lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional.

Tahun 1970, aplikasi bioremediasi pertama kali dilakukan untuk mengurai tumpahan minyak di Ambler, Pennsylvania. Tahun 1974 Richard Raymond untuk pertama kalinya mendapatkan paten tentang teknik bioremediasi setelah bioremediasi sukses dilakukan di lapangan. Di Indonesia aplikasi bioremediasi diinisiasi oleh PT. Chevron Pasific Indonesia (CPI, perusahaan migas terbesar) pada awal tahun 1994 dengan fokus kegiatan operasi skala laboratorium dan pilot. Tahun 2002 operasi bioremediasi skala besar mulai dijajaki. Seiring dengan itu, tahun 2003 regulasi yang mengatur bioremediasi minyak mentah diterbitkan (Kepmen LH No. 28 tahun 2003). Sampai dengan saat ini  PT. CPI mengklaim bahwa bioremediasi yang telah dilakukannya berhasil memulihkan tanah tercemar lebih dari 500.000 m3, dimana tanah tersebut digunakan untuk proses penghijauan seluas 60 ha. Namun sayang, dipertengahan tahun 2012, proses bioremediasi yang dilakukan CPI selama ini di terjang badai kasus bioremediasi fiktif. Sungguh kondisi ini sangat merugikan di tengah keadaan lingkungan Indonesia yang terus mengalami penurunan dan keterancaman.

Buku ini disusun untuk memberikan gambaran lebih detail tentang peran mikroba dalam mengurai limbah senyawa organik, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, serta teknik-teknik bioremediasi apa saja yang dapat diaplikasikan (Bab II). Status riset pengurai senyawa organik, seperti pada minyak mentah, zat pewarna, dan senyawa berklorinasi yang dimainkan oleh mikroba diuraikan secara detail bada Bab III dan IV. Uraian tentang aplikasi bioremediasi pada kasus minyak mentah di Indonesia, peraturan yang mengatur dan kasus-kasus yang terjadi selama aplikasinya, disajikan dengan jelas pada Bab V. Disamping itu, uraian dalam buku ini akan memberikan sebuah gambaran yang jelas bahwa proses bioremidiasi hanya akan terjadi bila ada mikroba. Oleh karenanya, pelestarian mikroba umumnya disebut juga sebagai mikroba tanah, mejadi kunci sangat penting karena mereka dapat dimanfaatkan dalam arti luas dalam menunjang kebutuhan hidup manusia yang semakin bertambah tambah.

 

untuk info lebih lanjut mengenai buku ini dapat menghubungi Dr. Asep Hidayat (ashephidayat12@gmail.com)


Unduh lampiran
Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  •  
  •  
  •  
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  •  
  •